Jayakatwang, Raja Kediri yang Meruntuhkan Kerajaan Singhasari
Ilustrasi gambar Raja Jayakatwang (Images: Kuwaluhan.com)

Idehits.net – Banyak artikel membahas tentang sejarah berdirinya kerajaan Majapahit yang merupakan generasi penerus dari kerajaan Singhasari.

Namun kali ini kita akan sedikit membahas tentang sosok diantara berdirinya kerajaan Majapahit dan runtuhnya kerajaan Singhasari yang tak lain adalah Raja Jayakatwang dari Kediri.

Berdasarkan sejarah yang ada menyebutkan jika Raja Jayakatwang awalnya adalah bupati Gelang-Gelang pada tahun 1292 kemudian beralih menjadi sebuah kerajaan yang bernama Daha, Kediri yang akhirnya mampu meruntuhkan Kerajaan Singhasari.

Jika disamakan dengan tokoh lain yang memiliki alur jalan hidup yang sama tentu kita akan ingat sosok Genghis Khan kakek dari Kubilai Khan yang bermula dari panglima militer yang mampu mempersatukan bangsanya lalu kemudian berhasil mendirikan sebuah kerajaan bernama Mongol pada abad ke-13 Masehi silam.

Sementara Raja Jayakatwang pada akhirnya mampu menguasai wilayah Jawa kala itu meski masa kejayaannya tersebut terbilang sangat singkat yakni hanya bertahan selama satu tahun saja.

Perihal yang menjadi itik akhir kejayaan Raja Jayakatwang adalah adanya upaya Raden Wijaya dengan langkah politik muslihat dengan langkah kerja sama dengan kerajaan Mongol yang akhirnya berhasil menyerang balik kerajaan Daha sebagai langkah balas dendam atas tindakan Raja Jayakatwang yang meruntuhkan kerajaan Singhasari.

Lebih lanjut tentang Raja Jayakatwang juga sering kali disebut dengan nama Jayakatong, Aji Katong, atau Jayakatyeng. Dalam berita Cina ia disebut Ha-ji-ka-tang.

Nagarakretagama dan Kidung Harsawijaya menyebutkan Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri. Dikisahkan pada tahun 1222 Ken Arok mengalahkan Kertajaya. Sejak itu Kadiri menjadi bawahan Singhasari di mana sebagai bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya.

Pada tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Mungkin Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana, karena dalam prasasti Mula Malurung Jayakatwang disebut sebagai keponakan Seminingrat (nama lain Wisnuwardhana). Prasasti itu juga menyebutkan nama istri Jayakatwang adalah Turukbali putri Seminingrat. Dari prasasti Kudadu dikenali Jayakatwang mempunyai putra bernama Ardharaja, yang menjadi menantu Kertanagara.

Jadi, hubungan selang Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

Dalam kitab Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Jayakatwang adalah raja bawahan di Kadiri yang memberontak terhadap Kertanagara di Singhasari.

Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai bupati Gelang-Gelang . Setelah Singhasari runtuh, baru belakang ia menjadi raja di Kadiri.

Sempat muncul argumen bahwa Gelang-Gelang merupakan nama lain dari Kadiri. Namun gagasan tersebut digugurkan oleh naskah prasasti Mula Malurung (1255).

Dalam prasasti itu dinyatakan dengan tegas sekiranya Gelang-Gelang dan Kadiri adalah dua wilayah yang berbeda. Prasasti itu menyebutkan sekiranya saat itu Kadiri diperintah Kertanagara sebagai yuwaraja (raja muda), sedangkan Gelang-Gelang diperintah oleh Turukbali dan Jayakatwang.

Lagi pula lokasi Kadiri berada di kawasan Kediri, sedangkan Gelang-Gelang aci di kawasan Madiun. Kedua kota tersebut terpaut jarak puluhan kilometer.

Langkah pemberontakan yang dilakuakn oleh Raja Jayakatwang ditulis dalam kitab Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan Jayakatwang menyimpan dendam karena leluhurnya (Kertajaya) dikalahkan Ken Arok pendiri Singhasari. Suatu hari ia menerima kedatangan Wirondaya putra Aria Wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya, aci intinya anjuran supaya Jayakatwang segera memberontak karena saat itu Singhasari sedang dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian luhur pasukannya ke luar Jawa. Adapun Aria Wiraraja adalah mantan pejabat Singhasari yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanagara.

Jayakatwang melaksanakan saran Aria Wiraraja. Ia mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Guyang menyerbu Singhasari dari utara. Mendengar hal itu, Kertanagara segera mengirim pasukan untuk menghadapi yang dipimpin oleh menantunya, bernama Raden Wijaya. Pasukan Jaran Guyang berhasil dikalahkan. Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singhasari kosong.

Pasukan kedua Jayakatwang menyerang Singhasari dari arah selatan dipimpin oleh Patih Mahisa Mundarang. Dalam serangan tak terduga ini, Kertanagara tewas di dalam istananya.

Menurut prasasti Kudadu, Ardharaja putra Jayakatwang yang tinggal di Singhasari bersama istrinya, ikut serta dalam pasukan Raden Wijaya. Tentu saja ia berada dlam jabatan sulit karena wajib menghadapi pasukan ayahnya sendiri. Ketika mengetahui kekalahan Singhasari, Ardaraja berbalik meninggalkan Raden Wijaya dan memilih bergabung dengan pasukan Gelang-Gelang.

Penyebab kekalahan Raja Jayakatwang Peristiwa kehancuran Singhasari terjadi tahun 1292 sejatinya menjadi awal petaka bagi dirinya.

Pasca runtuhnya kerajaan Singhasari, Jayakatwang kemudian naik tahta untuk menjadi raja di Daha, dengan Kadiri sebagai pusat pemerintahannya. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan untuk Raden Wijaya yang datang menyerahkan diri.

Raden Wijaya belakang diberi Hutan Tarik untuk dibuka menjadi kawasan wisata perburuan.

Sesungguhnya Aria Wiraraja telah berbalik melawan Jayakatwang.

Saat itu ia ganti membantu Raden Wijaya untuk merebut kembali takhta peninggalan mertuanya.

Pada tahun 1293 pasukan Mongol datang untuk menghukum Kertanagara yang telah berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Pasukan Mongol tersebut diterima Raden Wijaya di desanya yang bernama Majapahit. Raden Wijaya yang mengaku sebagai berbakat waris Kertanagara bersedia menyerahkan diri untuk Kubilai Khan asalkan terlebih dahulu dibantu mengalahkan Jayakatwang.

Berita Cina menyebutkan perang terjadi pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Kadiri sejak pagi hari. Sekitar 5000 orang Kadiri tewas menjadi korban. Kesudahannya pada sore harinya, Raja Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol.

Dikisahkan belakang pasukan Mongol ganti diserang belakang oleh pihak Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.

Menurut kitab Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang telah menyerah lalu ditawan di benteng pertahanan Mongol di Hujung Galuh. Menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, ia meninggal di dalam tahanan penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman.

Sumber: p2k.unugha.ac.id

Artikel sebelumyaSinopsis Balika Vadhu Episode 175, Drama India ANTV
Artikel berikutnyaSinopsis Cute Programmer Episode 17, Drama China

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here