Biografi KH Hasyim Asy'ari, Ulama Pahlawan Nasional dan Pendiri NU
Images: Nu.or.id

Idehits.netBiografi KH Hasyim Asy’ari, merupakan tokoh central berdirinya (pendiri) Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya pada 31 Januari 1926.

Tentang biografi KH Hasyim Asy’ari dimana beliau lahir ditengah kalangan pesantren tepatnya di Demak, Jawa Tengah, 10 April 1875 – meninggal di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumada Awal 1292 H – 6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia Di antara Nahdliyin dan pesantren ulama ia dijuluki sebagai Hadratus Syekh yang berarti guru .

Keluarga

Dari silsilah keluarga, KH Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Sedangkan kesepuluhnya antara lain: Nafi’ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan garis keturunan ibu, KH Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan baik dari Sultan Pajang Jaka Tingkir juga memiliki keturunan raja Hindu Majapahit, Raja Brawijaya V ( Lembupeteng). Disini KH Hasyim Asy’ari berdasarkan silsilah berdasarkan garis keturunan ibu.

Baca juga: Biografi Soekarno: Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia

Latar belakang Pendidikan

Berdasrkan latar belakang pendidikan, KH Hasyim Asy’ari mempelajari dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, yang juga pemimpin Pesantren Kyai Utsman Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau mengembara untuk menuntut ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Siwalan di Sidoarjo.

Pada tahun 1892, KH Hasyim Asy’ari pergi menuntut ilmu ke Mekkah, dan belajar pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfouz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin Al-Attar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal , Sayyid Abbas Maliki Sayyid Alwi bin Ahmad al – Saqqaf, dan Sayyid Hussein Al -Ethiopia.

Di Makkah, awalnya KH Hasyim Asy’ari belajar di bawah bimbingan Syekh bimgingan Mafudz Termas (Pacitan) yang merupakan imam Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhari di Makkah. Syekh Mafudz adalah seorang ulama hadits dan sangat menarik untuk mempelajari KH Hasyim Asy’ari agar sekembalinya ke Indonesia. Beliau sangat terkenal ahli dalam mengajarkan ilmu hadits. Ijazah beliau dapatkan langsung dari Syekh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, dimana Syekh Mahfouz merupakan pewaris terakhir pertalian penerima (isnad) hadits dari 23 generasi penerima karya ini. Selain mempelajari hadits ia juga belajar tasawuf (sufi) untuk mendalami Qadiri dan Naqsyabandiyah.

KH Hasyim Asy’ari juga mempelajari mazhab fiqh Syafi’i di bawah bimbingan Syekh Ahmad Katib dari Minangkabau yang juga ahli dalam bidang astronomi (astronomi), matematika (aritmatika), dan aljabar. Pada masa berguru pada Syekh Ahmad Katib inilah KH Hasyim Asy’ari mempelajari Tafsir Al-manar karya monumental Muhammad Abduh. Pada prinsipnya, ia mengagumi rasionalitas pemikiran Abduh namun kurang setuju dengan ejekan Abduh terhadap ulama tradisionalis.

Guru lainnya termasuk seorang ulama dari Banten yang tinggal di Makkah yaitu Nawawi al-Bantani. Sedangkan guru-guru yang bukan berasal dari nusantara antara lain Syekh Shata dan Syekh Dagistani yang terkenal sebagai ulama pada masa itu.

Baca juga: Biografi Abdul Haris Nasution, Jendral Besar TNI

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari

Pada tahun 1899, sekembalinya dari Mekkah, KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kemudian menjadi sekolah terbesar dan terpenting di Jawa pada abad ke-20 . Pada tahun 1926, KH Hasyim Asy’ari menjadi salah satu penggagas berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama. Karena jasa-jasanya, sebagai pemikir dan pergerakan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia, KH Hasyim Asy’ari juga dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional yang wajib untuk kita kenang.

Artikel sebelumyaSinopsis Balika Vadhu Episode 47, Drama India ANTV
Artikel berikutnyaSinopsis Vincenzo (2021), Drama Korea

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here