Biografi Abdul Muis, Sebagai Pahlawan Nasional Indonesia Pertama
Abdul Muis, Pahlawan Nasional Indonesia (Images: Liputan6.com)

Idehits.net – Biografi Abdul Muis, seorang penulis, jurnalis, dan nasionalis Indonesia yang turut gigih berjuang dalam melawan Belanda.

Abdul Muis (Abdoel Moeis) beliau lahir pada tahun 1886, dan wafat pada tanggal 17 Juli 1959, dan menjadi pahlwan nasional pertama yang dinobatkan langsung oleh Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno.

Biodata Abdul Muis

Nama: Abdul Muis
Tempat Tanggal Lahir: 3 Juli 1886 di Sungai Puar, Sumatera Barat
Meninggal: 17 Juni 1959 (umur 72) di Bandung, Jawa Barat
Bahasa: bahasa Indonesia
Kebangsaan: bahasa Indonesia
Karya-karya: Salah Asuhan, Pertemuan Jodoh

Baca juga: Biografi KH Abdul Halim Majalengka, Pahlawan Nasional

Perjalanan Hidup

Biografi Abdul Muis Lahir di Sungai Puar, Provinsi Sumatera Barat pada tahun 1886 dari keluarga terpandang Minangkabau.

Semasa menuntut pendidikannya Abdul Muis muda telah mengenyam pendidikan barat dan belajar kedokteran di Jakarta selama tiga tahun sebelum terpaksa mengundurkan diri karena sakit.

Abdul Muis pertama kali mendapatkan pekerjaan di pegawai negeri, sebelum beralih ke jurnalisme dan terlibat dalam publikasi nasionalis seperti Kaoem Moeda, sebuah makalah yang ia dirikan pada tahun 1912.

Ia sangat gigih menyatakan perlawanannya pada kolonial Belanda lewat tulisa-tulisannya.

Lantaran hal tersebut ia sangat terkenal karena artikel-artikelnya yang menghasut, yang sangat kritis terhadap keterlibatan Belanda di Indonesia. Misalnya, esai yang diterbitkan di De Express, sebuah surat kabar berbahasa Belanda, sangat kritis terhadap sikap Belanda terhadap orang Indonesia.

Selama Perang Dunia Pertama ia aktif dalam gerakan otonomi yang lebih besar untuk Hindia, dan merupakan anggota delegasi dari Comité Indië Weerbaar (Komite untuk Pertahanan Hindia).

Abdul Muis juga bergerak dalam sebuah organisasi kal itu, terbukti dengan ia bergabung bersama Sarekat Islam (Persatuan Islam).

Ia pun menjadi anggota aktif organisasi tersebut, dan dengan cepat dipromosikan melalui pangkat, menjadi wakilnya untuk Belanda dalam negosiasi yang bertujuan untuk mendapatkan perwakilan langsung bagi Indonesia dalam sistem parlementer Belanda.

Baca juga: Biografi Abdul Halim, Menjabat Perdana Mentri Pada Masa RIS

Saat memasuki tahun 1920 ia diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat), yang kemudian berkembang menjadi majelis semi-legislatif.

Di antara anggota badan ini adalah tokoh-tokoh nasionalis terkemuka seperti Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo , HOS Tjokroaminoto , Dr. Sam Ratulangi, MH Thamrin, Wiwoho, Sutardjo Kartohadikusumo, Dr. Radjiman, dan Soekardjo Wiryopranoto.

Dalam perjuangannya, Abdul Muis tercatat cukup sering mengalami masalah dengan pemerintah Belanda. Dia ditangkap pada tahun 1919 setelah pembunuhan seorang Controleur Belanda di Sulawesi Utara tepat setelah Muis menyelesaikan tur berbicara di sana.

Tidak lama kemudian, pada tahun 1922, ia memimpin pemogokan protes di Yogyakarta , dan akibatnya ditangkap dan ditahan di kota Garut , di Jawa Barat untuk jangka waktu tiga tahun.

Pada penhujung tahun 1920-an Muis mengalihkan fokusnya dari politik ke penulisan kreatif, dan pada tahun 1927 ia memulai korespondensi dengan penerbit milik negara Balai Pustaka.

Dalam novel yang menjadi karya pertamanya berjudul “Salah Asuhan”, yang diterbitkan pada tahun 1928, Abdul Muis digambarkan masalah diskriminasi rasial dan sosial dalam kisah tragis Hanafi dan Corrie.

Hanafi yang berorientasi Barat dan Corrie yang liberal dan penuh semangat mewakili konflik yang dihadapi Indonesia pra-kemerdekaan dalam memilih untuk menganut nilai-nilai tradisional, atau mengadopsi gagasan Barat tentang modernitas.

Isi dari Novel tulisannya tersebut digambarkan sebagai salah satu karyanya yang paling terkenal dan juga salah satu karya fiksi modern Indonesia yang paling populer.

Novel tersebut merupakan salah satu dari beberapa karya klasik Indonesia yang masuk dalam Seri Warisan Budaya Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 2009.

Kemudian pada tahun 2010, terjemahan bahasa Inggris ( Never the Twain ) juga diterbitkan oleh Yayasan Lontar sebagai bagian dari Seri Indonesia Modern Foundation.

Akhir Perjalanan

Mendekati akhir perjalanan hayat, Abdul Muis banyak berada di Bandung, dan terlibat dalam pendirian Institut Teknologi Bandung.

Setelah Kemerdekaan ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan, yang fokusnya adalah pengembangan Jawa Barat dan Sunda.

Abdul Muis pun meninggal di Bandung pada tahun 1959, dan saat ini dianggap sebagai pejuang kemerdekaan yang penting dalam sejarah Indonesia.

Karya-Karya

Berikut beberapa karya terkenal Abdul Muis meski masih banyak karya lain yang menjadi saksi bisu perjuangan beliau melawan kolonial Belanda.

  • Salah Asuhan , Jakarta : Balai Pustaka, 1928
  • Pertemuan Jodoh , Jakarta : Balai Pustaka, 1932
  • Surapati , Jakarta : Balai Pustaka, 1950
  • Hendak Berbakti , Jakarta, 1951
  • Robert Anak Surapati , Jakarta : Balai Pustaka, 1953

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here